Translate

Saturday, 19 October 2019

Teori Taman Tikus : Bukan Narkoba yang Menyebabkan Kecanduan





Saat ini kita sering kali melihat berita di televisi tentang penangkapan artis-artis dan warga masyarakat biasa, baik muda atau tua, ditangkap Polisi dan BNN karena terjerat kasus narkoba  gara-gara menjadi pecandu, dan jarang mereka disebut “korban penyalahguna narkoba”. Para pecandu ini ditangkap lalu disidang dan dijebloskan ke dalam penjara. Tapi di sisi lain kita sering kali mendengar slogan-slogan, bahkan dalam undang-undang narkotika pun menyebut “Pecandu harus di Rehabilitasi”. mirisnya kebanyakan mereka jarang mendapatkan hak kesehatannya terkait masalah kesehatan yang mereka derita selama menjadi konsumen narkoba. Realita yang sangat bertentangan bukan !


Selama ini, pemahaman kita -termasuk saya- meyakini bahwa narkoba-lah yang membuat seseorang menjadi kecanduan, seperti suatu hidangan yang sangat melezatkan bagi penggunanya, atau seperti kenikmatan surgawi bagi pengguna, walaupun harganya ratusan ribu bahkan jutaan, dan rasanya pun tidak semanis buah mangga yang seharga Rp. 10.000-an, narkoba tetap mereka beli dan konsumsi, tidak peduli ancaman penjara dan dampak buruk gangguan kesehatan yang akan mereka derita.

Namun, setelah tanpa sengaja, pada saat saya mempelajari mengenai adiksi, saya menemukan sebuah video yang berjudul “Addiction” tentang 'Rat Park' (https://youtu.be/C8AHODc6phg). Lalu saya juga semakin penasaran, pikiran saya semakin terbuka ketika saya mendengarkan ceramah Johann Hari di Channel Youtube Ted (https://youtu.be/PY9DcIMGxMs), maklum saya belum sempat mencari bukunya yang berjudul “Chasing the Scream”. Dari titik inilah saya terhipnotis oleh kampanye “Hentikan Perang Narkoba”.

Bagaimana tidak terhipnotis, karena biaya Milyaran rupiah bahkan sampai Trilyunan digelontorkan oleh Negara hanya untuk berperang melawan narkoba, tapi hasilnya tetap nihil, malah menambah korban. Tidak banyak memberikan solusi untuk menyelamatkan para pecandu dari masalah ketidakberdayaannya melawan kecanduan. Lebih banyak anggapan bahwa pecandu sebagai sampah masyarakat dan tukang merusuhkan di masyarakat, dicap sebagai biang kejahatan dari semua kasus kriminal. Sederhananya, tempat mereka adalah “PENJARA”. 

Tidak ! Bukan penjara tempat mereka, tempat mereka harus di masyarakat, mendapat perhatian dari negara dan stakeholder lainnya, juga mendapat kasih sayang dari keluarga dan masyarakat.

Lalu apa hubungannya kecanduan narkoba dengan Teori Taman tikus ?

Setelah saya berselancar selama beberapa minggu, mencari tahu dan berusaha memahami tentang “Teori Taman Tikus” dari beberapa sumber artikel online dan ceramah di video youtube, bahwa teori ini merupakan kesimpulan dari uji coba pemberian obat-obatan yang diberikan kepada tikus eksperimen. Pada tahun 1960 – 1980 Bruce K. Alexander membuat eksperimen isolasi terhadap tikus-tikus. Tikus-tikus ini dimasukkan ke dalam kandang sempit yang mana tikus tersebut tidak dapat melihat tikus yang lain, dan kadang-kadang tikus mendapat hukuman setrum melalui lantainya. Hasil dari eksperimen tersebut memperlihatkan tikus depresi. Kandang ini dinamai Skinner Box untuk tikus, alat ini dirancang sedemian rupa, terdapat tuas untuk menyuntikkan narkoba dengan dosis yang disesuaikan bagi tikus. Pada kondisi yang tepat, tikus eksperimen tersebut akan menginjak tuas tersebut dan dapat mengkonsumsi narkoba sebanyak yang tikus mau.

Dari sini Bruce mendapatkan ilham, dia menyadari bahwa sejatinya tikus adalah mahluk yang sangat bersosialisasi, seksual dan rajin. Namun, ketika tikus diisolasi, mendapatkan perlakukan yang melecehkan, mendapat siksaan secara psikologis dan fisik, sama halnya seperti manusia, jika pengurungan membuat manusia bisa gila; jika didalam pengurungan manusia diberi obat-obatan yang bisa membekukan pikiran mereka, mereka akan mengkonsumsinya untuk membekukan pikiran mereka, meskipun manusia memiliki alternatif pilihan lainnya tidak seperti tikus yang tidak memiliki pilihan ketika diisolasi didalam Kotak Skinner.

Tidak berhenti di sini, Bruce K. Alexander bersama rekan-rekannya membuat eksperimen lainnya. Mereka membuat sebuah isolasi yang lebih besar, di dalamnya diisi dengan berbagai hal yang disukai oleh tikus seperti permainan tikus, platform memanjat, tempat bersembunyi, serpihan kayu untuk berkeliaran, tempat berolah raga, dan dimasukkan banyak tikus dari kedua jenis kelamin. Tak lama kemudian lahirlah bayi-bayi tikus. Lalu disebutlah “Taman Tikus”. Di dalam Taman Tikus ini, para peneliti menyiapkan sejumlah tempat asupan narkoba seperti di Kotak Skinner bagi para penghuni Taman Tikus.

Kemudian mereka membandingan penelitian tikus yang diisolasi dengan tikus yang hidup normal di Taman Tikus, hasilnya yaitu konsumsi narkoba lebih banyak digunakan oleh tikus yang diisolasi, sedangkan tikus yang berada di Taman Tikus hampir tidak ada yang mengkonsumsinya. Jadi, sangatlah jelas bahwa percobaan Kotak Skinner tidak membuktikan bahwa Narkoba lah yang menyebabkan tikus-tikus kecanduan narkoba. Justru sebaliknya, tikus-tikus yang diisolasi dalam Kotak Skinner  cenderung merespon terhadap isolasi itu sendiri sehingga tikus tersebut menginjak tuas untuk mendapatkan narkoba.

Pada tahun 1980, pendanaan penelitian ini tanpa sebab ditarik, padahal masih banyak pertanyaan-pertanyaan mengenai penyebab seseorang menjadi pecandu belum terjawab.
Profesor Bruce K. Alexander akhirnya meluaskan hasil eksperimennya dihubungkan dengan antropologi dan sejarah. Bruce menitik beratkan pada sejarah kolonial Inggris terhadap bangsa-bangsa jajahannya. Bruce melihat bahwa pribumi yang dijajah kolonial Inggris sebelumnya memiliki permasalahan serius seperti perang suku, penghianatan, tahanan dan perbudakan, sampai penyakit epidemik. Tetapi pribumi sedikit memiliki permasalahan kecanduan. Lalu, kecanduan menjadi masalah, terutama alkohol, ketika pribumi mendapatkan isolasi sosial dan budaya, ketika penjajah menghancurkan budaya pribumi dengan memaksakan budaya penjajah Inggris, tanah-tanah tradisional dirampas, pelecehan, memecah keluarga, dan melarang belajar penggunaan bahasa pribumi, bahkan melarang praktik tradisional mereka.

Pendapat lain tentang kecanduan bukan karena Narkoba adalah, Johann Hari. Narasi dan pendapatnya berdasarkan teori Taman Tikus. dia membuat pandangan bahwa pada peperangan Vietnam, banyak prajurit Amerika menggunakan narkoba pada saat di dalam hutan. Bahkan masyarakat dan keluarga di Amerika Serikat khawatir negaranya akan dibanjiri pecandu dari kalangan veteran perang Vietnam, mereka mengira prajurit dan veteran perang akan menjadi pecandu berat dan menimbulkan banyak masalah sosial. Namun, yang terjadi malah sebaliknya, semenjak prajurit dipulangkan ke negaranya, dan selesailah perang dengan Vietnam, justru sebanyak 95 % dari prajurit yang menggunakan narkoba pada saat perang di Vietnam tiba-tiba berhenti menggunakan narkoba pada saat pulang kampung ke negaranya.
Dari narasi tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa para prajurit perang tersebut mengalami isolasi atas ketakutan dan trauma mental pada saat peperangan di Vietnam, lalu kemudia ketika mereka pulang kampung, hidup tenang dan damai, berkumpul dengan keluarga, teman dan orang-orang yang mereka cintai, penggunaan narkoba berhenti begitu saja.

Dari Teori Taman Tikus dan Narasi Johann Hari saya berpendapat untuk menyimpulkan bahwa kecanduan bukan disebabkan narkobanya itu sendiri, melainkan atas respon seseorang/subjek akibat mengalami isolasi. Menurut saya pribadi, merasa terisolasi bukan karena dikurung, namun juga terisolasi dari kehidupannya seseorang/sunjek, yang kurang mampu beradaptasi terhadap sebuah permasalahan dalam dirinya. Seperti ketika mereka memiliki trauma pelecehan pada masa kecil, kekerasan seksual, peperangan, masalah tekanan ekonomi, tekanan pekerjaan, masalah penghiatan dan lainnya yang menyebabkan mereka depresi, merasa terpenjara secara psikologis dan sosial bisa jadi itulah penyebab mereka menjadi pecandu.

Akhir kata dari saya, Hentikan Perang Narkoba “Stop War on Drugs”. Jangan penjarakan (secara sosial dan Hukum) para pecandu. Selamatkan mereka dari ketidakberdayaan melawan kecanduannya.

Sumber :

No comments: