![]() |
| Pertemuan Koordinator SSR Program HIV AIDS di Bandung (2015) |
Meskipun hal
tersebut berdampak positif terhadap perekonomian dan social serta pendidikan di
Kota Sukabumi. Namun, dibalik itu semua, dampak negative pun dapat dirasakan.
Diantaranya, peredaran narkotika dan obat-obatan illegal yang cukup tinggi, tawuran
antar pelajar, tawuran antara genk dan komunitas tertentu, aksi kekerasan
dijalanan, serta menjamurnya pelacuran dan seks bebas, dan pada akhirnya kasus
HIV-AIDS yang cukup menghawatirkan.
Faktor
penyebaran HIV-AIDS di Kota Sukabumi bisa jadi karena ketidaktahuan masyarakat
mengenai HIV-AIDS itu sendiri, ketidakberdayaan populasi kunci dalam
berperilaku hidup sehat, atau bisa jadi rendahnya rasa simpati dan empati atas
isu HIV-AIDS, dan mungkin akses layanan yang tidak memadai, hingga kebijakan
Pemerintah Daerah yang belum mendukung program Penanggulangan HIV-AIDS.
Pada saat kami melakukan
Program Penanggulangan HIV-AIDS di Kota Sukabumi mulai tahun 2013 dengan dana
bantuan Global Fund Fase Single Streaming Fund (SSF), untuk melakukan
penjangkauan dan pendampingan kepada populasi kunci* serta melakukan
pengorganisasian masyarakat dan komunitas dalam rangka meningkatkan
pengetahuan, kesadaran, dan kepedulian terhadap isu HIV-AIDS di Kota Sukabumi, pada
waktu itu terdapat beberapa layanan kesehatan yang memiliki fasilitas dan di Sett-up untuk melayani pencegahan dan
penanggulangan HIV-AIDS, diantaranya dua layanan pengobatan ARV (CST) di RSUD
R. Syamsudin SH dan RSI Asyifa. Selain LABKESDA yang memiliki fasilitas VCT, ada
Puskesmas Selabatu melayani layanan VCT/PITC, IMS dan Jarum suntik steril. Juga
Puskesmas Sukabumi melayani Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) dengan harga
Rp. 10.000, pelayanan VCT/PITC dan IMS. Dan setahu saya, pada awal menjalankan
program, belum banyak kebijakan atau peraturan yang mendukung program HIV-AIDS
di Kota Sukabumi.
*Populasi Kunci diantaranya : Pengguna
Napza Suntik (PENASUN), Lelaki beresiko tinggi (LBT), Lelaki seks Lelaki (LSL),
Wanita Pekerja Seks (WPS), Waria/transgender dan Orang dengan HIV-AIDS (ODHA).
Disaat-saat akan
berakhirnya program, disaat-saat kejenuhan melanda staf dalam memperjuangkan
hak-hak kesehatan masyarakat, disaat-saat burn-out
dan lelah mencari, mendampingi serta mengajak masyarakat dan komunitas
untuk berperan aktif di dalam upaya penanggulangan HIV-AIDS, disaat merasa
kecewa atas “komunikasi dan koordinasi” yang membisu, disaat merasa gagal dalam
menjalankan tugas, ketika perasaan mengambang dan menggangtung menunggu
kepastian, ternyata Rahmat Allah dan hidayah tak pernah putus kepada
orang-orang yang tidak berputus asa, disaat perasaan tak jemu ini ada rasa
senang dan bahagia yang menyelimuti untuk menutupi perasaan keluh kesah, sedih,
marah dan kecewa. Apa rasa senang dan bahagia itu, akan kami bagi dalam tulisan
yang semrawut ini.
Bersama-sama PIKM,
masyarakat, komunitas, warga, LSM, KDS dan orang-orang dilayanan dan pemerintahan,
KPA, wartawan, serta siapapun mereka yang sangat Peduli terhadap Isu HIV-AIDS
di Kota Sukabumi, ternyata Perjuangan ini membuahkan hasil, meskipun bisa
dibilang sedikit, tapi inilah keberhasilannya.
Meningkatnya kepedulian Pemerintah Daerah (Pemda)
terhadap isu HIV-AIDS, akhirnya Pemda mulai berani berinvestasi untuk program upaya
penanggulangan HIV-AIDS. Kini, tahun 2015 untuk pelayanan pemeriksaan HIV-AIDS
secara gratis sudah dapat dilakukan di 15 Puskesmas baik untuk VCT atau PITC
meskipun belum semua puskesmas memiliki konselornya, serta pemeriksaan IMS dan
pengobatannya. Peningkatan dalam upaya pengobatan HIV-AIDS pun dapat dirasakan
oleh klien ODHA dalam mengakses layanan CST, yaitu dapat menggunakan JKN BPJS.
Dan harga PTRM di Puskesmas Sukabumi menjadi Rp. 5000. Untuk membantu ODHA
dalam meningkatkan kualitas hidupnya, kini di Kota Sukabumi memiliki akses
layanan pemeriksaan CD4 murah seharga Rp. 50.000. dan kini Pemda telah
melahirkan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada isu HIV-AIDS. Diantaranya Peraturan
Daerah kota Sukabumi No. 4 Tahun 2015 tentang Upaya Penanggulangan HIV-AIDS,
Peraturan Walikota No. 17 tahun 2015 untuk tarif layanan PTRM di Puskesmas, dan
Perwal No. 18 tahun 2015 untuk mengatur
tarif dan dasar hukum layanan CD4.
Sebelum
kebijakan tersebut lahir, ada proses-proses yang dapat mempengaruhi
pemerintahan sehingga terdorong untuk membuat kebijakan. Advokasi setiap
pertemuan-pertemuan dengan stakeholder dan Civil Society, dan melakukan silahturahmi
kepada petugas, angota DPRD dan pejabat yang mampu mempengaruhi pemegang
kebijakan.
Dan selain itu, peran
elemen masyarakat dan komunitas sangat diperlukan. Misal, Setiap tahun,
setidaknya ada dua hari peringatan AIDS yang di dalamnya selalu dihiasi dengan
kegiatan aksi damai. Kegiatan Aksi damai dilakukan bersama-sama elemen
masyarakat dan komunitas di setiap peringatan Malam Renungan AIDS Nusantara dan
Peringatan Hari AIDS Sedunia. Yel-yel di teriakkan, sambil mengangkat poster
dan menyuarakan suara juga menyerahkan surat tuntutan elemen masyarakat kepada
Pemerintah Daerah dan DPRD kota Sukabumi mengenai isu-isu dan
kebutuhan-kebutuhan serta menyuarakan pemenuhan hak-hak warga Indonesia yang
harus dipenuhi oleh Pemerintah untuk mendapatkan hidup sehat dan bebas HIV dan AIDS.
Sedikitnya, elemen masyarakat melakukan aksi damai ini dua kali setiap
tahunnya.
Keterlibatan Kader Kota Sukabumi
Penanggulangan
HIV-AIDS pada populasi beresiko tinggi tidak hanya melulu melakukan intervensi
program dengan membagikan jarum steril dan kondom saja. Namun, penanggulangan
HIV-AIDS ini perlu juga dilakukan dengan pengorganisasian masyarakat dan komunitas-komunitas
tertentu yang memiliki kegiatan perkumpulan dan kegiatan mobile yang tinggi dan
terdapat aktivitas beresiko tinggi terhadap penularan HIV. Kegiatan ini
bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan umum tentang HIV-AIDS dan kesehatan
reproduksi, serta melaksanakan Tes HIV Bersama, dengan harapan mampu mengurangi
stigma terhadap isu HIV-AIDS.
Salah satunya
adalah melakukan penyuluhan dan sosialisasi tentang HIV-AIDS kepada komunitas
motor. Di Kota Sukabumi sendiri, setiap hari sabtu malam komunitas motor
tersebar di tiap titik penjuru Kota Sukabumi, tiap jalanan utama di Pusat Kota.
Komunitas motor terhitung lebih dari 30 kelompok yang tersebar, sedikitnya memiliki
20 anggota. Usia anggota Komunitas tersebut sangat beragam, mulai umuran
remaja, mahasiswa, pekerja, hingga pensiunan. Anggota komunitas ini tidak hanya
berasal dari warga Kota Sukabumi, namun dari luar kota sukabumi juga banyak.
Dari hasil
kegiatan pejangkauan petugas lapang, terungkap bahwa sebagian dari anggota pada
kelompok komunitas motor berperilaku beresiko tinggi. Mulai dari penggunaan
konsumsi minuman beralkohol, penyalahgunaan obat-obatan illegal dan narkotika dan
hingga pada perilaku hubungan seksual yang beresiko. Beberapa dari mereka ada
yang pernah melakukan hubungan seksual dengan WPS, atau yang berganti-ganti
pasangan seksual, baik dengan teman kencan atau dengan pacar dan selingkuhan.
Juga ada yang pernah menggunakan narkoba dengan jarum suntik. Bahkah dari
mereka ada yang mengakui melakukan kegiatan seks beresiko dengan istilah“SALOME”
atau “Satu Lobang Rame-rame”. Bahkan beberapa
diantara mereka pernah terkena IMS.
Dengan beragam
pandangan dan tanggapan dalam kegiatan penjangkauan tersebut, maka kami membuat
inisiatif melakukan edukasi dan advokasi kepada komunitas untuk meluruskan
pandangan yang salah tentang HIV-AIDS. Setidaknya ada lebih dari 5 Komunitas
yang Peduli terhadap Isu HIV-AIDS ini. Komunitas Motor Byson, Bosco, Satria FU,
B.O.S, Vespa SOG dan lain sebagainya yang tidak memiliki nama.
Maka, semakin banyak komunitas mengenal
HIV-AIDS, maka semakin banyak harapan atas kesadaran dan kepeduliannya terhadap
HIV-AIDS.
Kader peduli
AIDS di masyarakat pun telah terbentuk, sedikitnya ada 10 kader yang membantu
mendorong masyarakat terlibat aktif dalam penanggulangan HIV-AIDS. Diantaranya PIKM
/ Kader: SIAGA(Gg. Lipur), Pokja Stasiun (Hotspot Stasiun), ASTER (Sriwijaya),
Cibeureum Hilir, Kuta Lebak, Rumah Sehat (Komunitas Metadon), Mayawati, CISERA (Tipar),
Saluyu (kebon Kalapa), Komunitas Kaum Sehati, Gg. Ajid, Benteng, Cijangkar, Karang
Taruna Sriwidari, Karang Taruna Karang Tengah, bahkan masih banyak kader lain
yang telah banyak membantu meskipun tidak saya tuliskan disini, karena ada yang
Nampak dan ada yang tidak Nampak. Kami mencatat, bahwa atas bantuan para kader dan
komunitas ini, sedikitnya 2.715 warga Kota Sukabumi baik dari kelompok beresiko
tinggi dan rendah telah melakukan tes HIV. Beberapa kader pun sudah mampu
melakukan pendampingan ODHA untuk rujukan ARV dan PMTCT di Rumah Sakit. Dalam
hal ini, kami sangat mengapresiasi atas perbuatan dan tindakan kader yang
peduli HIV-AIDS.

No comments:
Post a Comment