Translate

Monday, 21 December 2015

SKANDAL VIRUS HIV-AIDS DICIPTAKAN OLEH ROBERT GALLO


Selama ini yang kita tahu tentang HIV-AIDS berasal dari virus simpanse. Entah bagaimana caranya, virus yang hanya menyerang simpanse ini bisa bermutasi menjadi virus mematikan untuk manusia.
Robert Charles Gallo adalah seorang peneliti biomedis berkenegaraan Amerika Serikat yang lahir tanggal 23 Maret 1937. Ia terkenal karena perannya dalam penemuan HIV sebagai agen infeksi yang bertanggung jawab peyebab AIDS. Dan dalam pengembangan tes darah HIV, dan ia telah menjadi kontributor utama dalam penelitian HIV. Sehingga pada bulan April tahun 1984, Dr Robert Gallo mengajukan permohonan hak paten untuk penemuan Virus HIV / AIDS. Lalu, untuk mengembangkan penemuannya, Gallo mendirikan Institute of Human Virology (IHV) di Universitas Maryland School of Medicine di Baltimore, Maryland pada tahun 1996.

Namun, ada yang menduga bahwa Robert Gallo bukanlah sebagai penemu HIV, tetapi sebagai yang menciptakan HIV. Tentu saja penemuan dan menciptakan berbeda.
Dari informasi https://www.youtube.com/watch?v=HgiMqgjS-zM bahwa HIV penyebab AIDS adalah virus yang diciptakan sebagai senjata biologi yang dikembangkan oleh Militer Amerika Serikat pada masa periode Presiden Nixon dan dikait-kaitkan dengan pemusnahan entnis kulit hitam Afro-Amerika dan  penduduk kulit Hitam di Afrika.
Dalam video yang berdurasi 8.36 menit tersebut memperlihatkan dokumen-dokumen rahasia pemerintahan atas keterlibatan Robert Gallo dalam penelitian senjata biologi. Laporan tersebut mengatakan telah menghabiskan dana sekitar 10 juta Dollar AS.
Menurut informasi dari http://topinfopost.com/2013/12/27/the-man-who-created-aids-robert-gallo,  antara tahun 1964 dan 1978, pemerintah federal Amerika Serikat telah menghabiskan 550 juta dollar AS untuk menciptakan AIDS. itu adalah 14 tahun sebelum HIV-AIDS ditemukan. Pada saat itu Robert Gallo tergabung dalam Litton Industries untuk melakukan kontrak penelitian senjata biologi dengan Militer Amerika Serikat. Bahkan beberapa pejabat Pemerintahan Amerika saat itu terlibat di dalamnya.
Berdasarkan informasi dalam video ini, Litton Industries membuat penelitian semacam mencampur dan mengkombinasikan virus, bakteri, Limphoma Sarcoma dan termasuk Leukeumia dari beberapa jenis spesies binatang.
Anda bisa simak videonya :

Sumber :


x

Friday, 18 December 2015

Latihan Backclip Pun di Sungai

Yaaah mau dikata apa... toh Pemerintah Kota Sukabumi belum memberikan fasilitas untuk latihan BMX jurus Backclip.

Akhirnya mereka, komunitas BMX Sukabumi berinisiatif mencari cara yang aman dan murah...
Latihan Backclip dilakukan di sungai kecil di wilayah Kecamatan Baros Kota Sukabumi...



Buat yang di rumah, jangan mencoba hal ini tanpa melalui pengawasan orang yang berpengalaman dan terlatih ya.. 

Wednesday, 16 December 2015

Resume Penanggulangan HIV-AIDS Kota Sukabumi Periode Tahun 2013-2015


Pertemuan Koordinator SSR Program HIV AIDS di Bandung (2015)
Kota Sukabumi adalah kota kelahiranku, kota tercinta, kota yang kecil tapi sejuta masalah. Wilayah kota ini dikelilingi oleh wilayah Kabupaten Sukabumi. Meskipun kecil, Kota ini menjadi pusat keramaian, perekonomian dan pendidikan. Karena memiliki banyak lembaga pendidikan formal, mulai tingkat SD sampai Perguruan Tinggi. Selain itu, tempat hiburan, cafĂ©, tempat nongkrong dan sebagai tempat “pangulinan” bagi warga Kota Sukabumi dan luar Kota Sukabumi. Mereka datang ke Kota ini tidak sekedar belanja ke Mall atau ke supermarket dan ke pasar, ternyata mereka pun datang untuk berguru, dan membuka bisnis, serta mencari hiburan semata.
Meskipun hal tersebut berdampak positif terhadap perekonomian dan social serta pendidikan di Kota Sukabumi. Namun, dibalik itu semua, dampak negative pun dapat dirasakan. Diantaranya, peredaran narkotika dan obat-obatan illegal yang cukup tinggi, tawuran antar pelajar, tawuran antara genk dan komunitas tertentu, aksi kekerasan dijalanan, serta menjamurnya pelacuran dan seks bebas, dan pada akhirnya kasus HIV-AIDS yang cukup menghawatirkan.
Faktor penyebaran HIV-AIDS di Kota Sukabumi bisa jadi karena ketidaktahuan masyarakat mengenai HIV-AIDS itu sendiri, ketidakberdayaan populasi kunci dalam berperilaku hidup sehat, atau bisa jadi rendahnya rasa simpati dan empati atas isu HIV-AIDS, dan mungkin akses layanan yang tidak memadai, hingga kebijakan Pemerintah Daerah yang belum mendukung program Penanggulangan HIV-AIDS.
Pada saat kami melakukan Program Penanggulangan HIV-AIDS di Kota Sukabumi mulai tahun 2013 dengan dana bantuan Global Fund Fase Single Streaming Fund (SSF), untuk melakukan penjangkauan dan pendampingan kepada populasi kunci* serta melakukan pengorganisasian masyarakat dan komunitas dalam rangka meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kepedulian terhadap isu HIV-AIDS di Kota Sukabumi, pada waktu itu terdapat beberapa layanan kesehatan yang memiliki fasilitas dan di Sett-up untuk melayani pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS, diantaranya dua layanan pengobatan ARV (CST) di RSUD R. Syamsudin SH dan RSI Asyifa. Selain LABKESDA yang memiliki fasilitas VCT, ada Puskesmas Selabatu melayani layanan VCT/PITC, IMS dan Jarum suntik steril. Juga Puskesmas Sukabumi melayani Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) dengan harga Rp. 10.000, pelayanan VCT/PITC dan IMS. Dan setahu saya, pada awal menjalankan program, belum banyak kebijakan atau peraturan yang mendukung program HIV-AIDS di Kota Sukabumi.
*Populasi Kunci diantaranya : Pengguna Napza Suntik (PENASUN), Lelaki beresiko tinggi (LBT), Lelaki seks Lelaki (LSL), Wanita Pekerja Seks (WPS), Waria/transgender dan Orang dengan HIV-AIDS (ODHA).
Disaat-saat akan berakhirnya program, disaat-saat kejenuhan melanda staf dalam memperjuangkan hak-hak kesehatan masyarakat, disaat-saat burn-out dan lelah mencari, mendampingi serta mengajak masyarakat dan komunitas untuk berperan aktif di dalam upaya penanggulangan HIV-AIDS, disaat merasa kecewa atas “komunikasi dan koordinasi” yang membisu, disaat merasa gagal dalam menjalankan tugas, ketika perasaan mengambang dan menggangtung menunggu kepastian, ternyata Rahmat Allah dan hidayah tak pernah putus kepada orang-orang yang tidak berputus asa, disaat perasaan tak jemu ini ada rasa senang dan bahagia yang menyelimuti untuk menutupi perasaan keluh kesah, sedih, marah dan kecewa. Apa rasa senang dan bahagia itu, akan kami bagi dalam tulisan yang semrawut ini.
Bersama-sama PIKM, masyarakat, komunitas, warga, LSM, KDS dan orang-orang dilayanan dan pemerintahan, KPA, wartawan, serta siapapun mereka yang sangat Peduli terhadap Isu HIV-AIDS di Kota Sukabumi, ternyata Perjuangan ini membuahkan hasil, meskipun bisa dibilang sedikit, tapi inilah keberhasilannya.
 Meningkatnya kepedulian Pemerintah Daerah (Pemda) terhadap isu HIV-AIDS, akhirnya Pemda mulai berani berinvestasi untuk program upaya penanggulangan HIV-AIDS. Kini, tahun 2015 untuk pelayanan pemeriksaan HIV-AIDS secara gratis sudah dapat dilakukan di 15 Puskesmas baik untuk VCT atau PITC meskipun belum semua puskesmas memiliki konselornya, serta pemeriksaan IMS dan pengobatannya. Peningkatan dalam upaya pengobatan HIV-AIDS pun dapat dirasakan oleh klien ODHA dalam mengakses layanan CST, yaitu dapat menggunakan JKN BPJS. Dan harga PTRM di Puskesmas Sukabumi menjadi Rp. 5000. Untuk membantu ODHA dalam meningkatkan kualitas hidupnya, kini di Kota Sukabumi memiliki akses layanan pemeriksaan CD4 murah seharga Rp. 50.000. dan kini Pemda telah melahirkan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada isu HIV-AIDS. Diantaranya Peraturan Daerah kota Sukabumi No. 4 Tahun 2015 tentang Upaya Penanggulangan HIV-AIDS, Peraturan Walikota No. 17 tahun 2015 untuk tarif layanan PTRM di Puskesmas, dan Perwal  No. 18 tahun 2015 untuk mengatur tarif dan dasar hukum layanan CD4.
Sebelum kebijakan tersebut lahir, ada proses-proses yang dapat mempengaruhi pemerintahan sehingga terdorong untuk membuat kebijakan. Advokasi setiap pertemuan-pertemuan dengan stakeholder dan Civil Society, dan melakukan silahturahmi kepada petugas, angota DPRD dan pejabat yang mampu mempengaruhi pemegang kebijakan.
Dan selain itu, peran elemen masyarakat dan komunitas sangat diperlukan. Misal, Setiap tahun, setidaknya ada dua hari peringatan AIDS yang di dalamnya selalu dihiasi dengan kegiatan aksi damai. Kegiatan Aksi damai dilakukan bersama-sama elemen masyarakat dan komunitas di setiap peringatan Malam Renungan AIDS Nusantara dan Peringatan Hari AIDS Sedunia. Yel-yel di teriakkan, sambil mengangkat poster dan menyuarakan suara juga menyerahkan surat tuntutan elemen masyarakat kepada Pemerintah Daerah dan DPRD kota Sukabumi mengenai isu-isu dan kebutuhan-kebutuhan serta menyuarakan pemenuhan hak-hak warga Indonesia yang harus dipenuhi oleh Pemerintah untuk mendapatkan hidup sehat dan bebas HIV dan AIDS. Sedikitnya, elemen masyarakat melakukan aksi damai ini dua kali setiap tahunnya.

Keterlibatan Kader Kota Sukabumi
Penanggulangan HIV-AIDS pada populasi beresiko tinggi tidak hanya melulu melakukan intervensi program dengan membagikan jarum steril dan kondom saja. Namun, penanggulangan HIV-AIDS ini perlu juga dilakukan dengan pengorganisasian masyarakat dan komunitas-komunitas tertentu yang memiliki kegiatan perkumpulan dan kegiatan mobile yang tinggi dan terdapat aktivitas beresiko tinggi terhadap penularan HIV. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan umum tentang HIV-AIDS dan kesehatan reproduksi, serta melaksanakan Tes HIV Bersama, dengan harapan mampu mengurangi stigma terhadap isu HIV-AIDS.
Salah satunya adalah melakukan penyuluhan dan sosialisasi tentang HIV-AIDS kepada komunitas motor. Di Kota Sukabumi sendiri, setiap hari sabtu malam komunitas motor tersebar di tiap titik penjuru Kota Sukabumi, tiap jalanan utama di Pusat Kota. Komunitas motor terhitung lebih dari 30 kelompok yang tersebar, sedikitnya memiliki 20 anggota. Usia anggota Komunitas tersebut sangat beragam, mulai umuran remaja, mahasiswa, pekerja, hingga pensiunan. Anggota komunitas ini tidak hanya berasal dari warga Kota Sukabumi, namun dari luar kota sukabumi juga banyak.
Dari hasil kegiatan pejangkauan petugas lapang, terungkap bahwa sebagian dari anggota pada kelompok komunitas motor berperilaku beresiko tinggi. Mulai dari penggunaan konsumsi minuman beralkohol, penyalahgunaan obat-obatan illegal dan narkotika dan hingga pada perilaku hubungan seksual yang beresiko. Beberapa dari mereka ada yang pernah melakukan hubungan seksual dengan WPS, atau yang berganti-ganti pasangan seksual, baik dengan teman kencan atau dengan pacar dan selingkuhan. Juga ada yang pernah menggunakan narkoba dengan jarum suntik. Bahkah dari mereka ada yang mengakui melakukan kegiatan seks beresiko dengan istilah“SALOME” atau “Satu Lobang Rame-rame”. Bahkan beberapa diantara mereka pernah terkena IMS.
Dengan beragam pandangan dan tanggapan dalam kegiatan penjangkauan tersebut, maka kami membuat inisiatif melakukan edukasi dan advokasi kepada komunitas untuk meluruskan pandangan yang salah tentang HIV-AIDS. Setidaknya ada lebih dari 5 Komunitas yang Peduli terhadap Isu HIV-AIDS ini. Komunitas Motor Byson, Bosco, Satria FU, B.O.S, Vespa SOG dan lain sebagainya yang tidak memiliki nama.
 Maka, semakin banyak komunitas mengenal HIV-AIDS, maka semakin banyak harapan atas kesadaran dan kepeduliannya terhadap HIV-AIDS. 
Kader peduli AIDS di masyarakat pun telah terbentuk, sedikitnya ada 10 kader yang membantu mendorong masyarakat terlibat aktif dalam penanggulangan HIV-AIDS. Diantaranya PIKM / Kader: SIAGA(Gg. Lipur), Pokja Stasiun (Hotspot Stasiun), ASTER (Sriwijaya), Cibeureum Hilir, Kuta Lebak, Rumah Sehat (Komunitas Metadon), Mayawati, CISERA (Tipar), Saluyu (kebon Kalapa), Komunitas Kaum Sehati, Gg. Ajid, Benteng, Cijangkar, Karang Taruna Sriwidari, Karang Taruna Karang Tengah, bahkan masih banyak kader lain yang telah banyak membantu meskipun tidak saya tuliskan disini, karena ada yang Nampak dan ada yang tidak Nampak. Kami mencatat, bahwa atas bantuan para kader dan komunitas ini, sedikitnya 2.715 warga Kota Sukabumi baik dari kelompok beresiko tinggi dan rendah telah melakukan tes HIV. Beberapa kader pun sudah mampu melakukan pendampingan ODHA untuk rujukan ARV dan PMTCT di Rumah Sakit. Dalam hal ini, kami sangat mengapresiasi atas perbuatan dan tindakan kader yang peduli HIV-AIDS.

Tuesday, 15 December 2015

PERILAKU SEKSUAL DAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA DI KALANGAN REMAJA



World Health Organization (WHO), membagi tahap remaja tiga fase, dengan rincian tahap remaja usia 10 – 19 tahun, fase tahap anak muda usia 15 – 24 tahun, dan fase tahap anak muda usia 10 – 24 tahun. Namun, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional menetapkan bahwa fase remaja yang menjadi koresponden dibatasi 15 – 24 tahun. Karena menurut Steinberg usia 15 tahun usia remaja yang memiliki kemampuan untuk berpikir logis telah berkembang dan akan terus berlanjut sampai tahap dewasa awal. Usia 15 tahun secara psikologi telah memasuki konsolidasi menjadi dewasa ditandai dengan perkembangan emosional, sosial dan intelektual yang lebih baik.
Masa remaja adalah masa transisi dari anak menuju taraf dewasa, masa pubertas mendorong rasa keingintahuan mereka semakin meningkat. Terkadang mereka merasa binggung dengan perubahan secara fisik dan psikologi selama pubertas. Para remaja dalam keadaan ketidakstabilan emosi dan kejiwaan selalu mencari-cari tahu tentang jati diri dan seksualitas mereka, dan untuk melakukan pencarian itu, mereka berusaha mencari tahu dari lingkungan, teman, televisi, internet, radio, video, majalah, pengalaman orang lain dan individu dan lain-lain sebagainya. Pencarian mereka untuk memenuhi keingintahuan jati diri dan seksualitas tidak terkontrol.
Dalam masa ini remaja memiliki kebebasan bergaul dengan siapapun, yang mana memiliki dampak positif maupun negatif. Pada masa remaja, adalah masa topan-badai yang penuh gejolak akibat pertentangan nilai-nilai. Dengan kebebasan bergaul yang dimiliki, terkadang remaja menjadi bebas untuk melakukan segala sesuatu tanpa memperhatikan nasihat atau ucapan dari orang-orang terdekatnya. Remaja pada dasarnya bertugas untuk menuntut ilmu yang bermanfaat, namun kenyataannya banyak remaja melakukan perbuatan yang tidak sepatutnya mereka lakukan. Maka, potensi kenakalan dan kejahatan dimulai dalam masa remaja.
Semakin maju peradaban manusia dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi saat ini menjadi peluang besar untuk mempengaruhi perilaku para remaja, Pengaruh kurangnya pengawasan dari orang tua, lemahnya aturan dan norma yang hidup dimasyarakat, serta semakin menurunnya kepedulian sesama antar manusia diduga menjadi penyebab peningkatan kenakalan remaja. Pendidikan di sekolah seakan tak mampu untuk mengurangi kenakalan remaja yang terjadi saat ini.
Hal ini tentu belum sejalan dengan tujuan Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis, serta bertanggung jawab.
Ada berbagai macam wujud kenakalan remaja, mulai dari membolos sekolah, menggunakan kendaraan secara kebut-kebutan, perkelahian dan tawuran, mabuk-mabukan, perkosaan, seks bebas, menggunakan narkotika dan obat-obatan terlarang dan lain-lain. Dan salah satu bentuk kenalan remaja yang marak terjadi saat ini adalah penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang. Tidak dipungkiri bahwa kaum remaja adalah kelompok paling rentan terhadap terjadinya berbagai penyimpangan perilaku seks bebas dan penyalahgunaan narkotika.
Usia remaja paling mudah dipengaruhi untuk menggunakan narkoba. Para bandar narkoba biasanya menyasar para remaja. Beberapa hal dapat menjadi faktor anak remaja terjerumus penyalahgunaan narkoba. Faktor stress dan tertekan dapat menjadi penyebab, anak-anak yang mengalami tekanan dari keluarga atau lingkungan sosial dapat menyebabkan depresi. Bila anak tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua, pada umumnya anak akan terjerumus ke dalam pergaulan yang salah. Bila demikian, anak remaja mudah terpengaruhi untuk menggunakan narkoba guna mencari kesenangannya sendiri. Selain faktor stress, penyebab dapat diakibatkan oleh faktor lingkungan atau teman. Faktor teman dalam hal ini sangat berpengaruh, karena usia remaja adalah masa pertumbuhan ingin mencoba segala hal-hal baru termasuk narkoba. Bila anak dalam pergaulan yang salah maka akan mudah terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba dan obat-obatan terlarang.
Sama halnya dengan perilaku seksualnya, pengetahuan dan informasi yang kurang tentang seksualitas dan bahkan mereka mencoba dengan mempraktekkannya dengan lawan jenis. Perilaku seksual remaja mencakup kegiatan mulai berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, sampai berhubungan seksual. Kenikmatan seksual merupakan dorongan kuat bagi remaja untuk mencoba perilaku seksual tertentu, meskipun harus melanggar norma-norma sosial. Kenikmatan seksual lebih menguntungkan ketimbang sangsi sosial atau ancaman risiko yang mungkin terjadi. Lambat laun akan menyebabkan remaja tersebut menganggap perilaku seks terhadap lawan jenis adalah hal yang biasa, dan terus melakukannya tanpa menyadari resiko yang akan mereka dapatkan.
1.      Survey Nasional Penyalahguna Narkotika dan Obat-obatan Terlarang Kalangan Pelajar Indonesia
Berdasarkan hasil Laporan Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2014, fakta bahwa sebagian besar pengguna narkotika dan dan obat-obatan terlarang di Indonesia merupakan remaja dan berpendidikan tinggi. Sedangkan, berdasarkan laporan BNN tahun 2012, mencatat bahwa dari 188.578 kasus tersangka narkoba di Indonesia, sebanyak 6.251 merupakan Pelajar dan mahasiswa. Menurut gambaran proyeksi dan skenario dalam Laporan BNN tahun 2014, secara nasional proyeksi dan skenario tahun 2015 pelajar yang menggunakan narkoba sekitar 1.178.300 orang. dan akan meningkat di tahun 2016 menjadi sekitar 1.225.700 pelajar. Untuk di Jawa Barat khususnya, bahwa proyeksi dan skenario angka penyalahguna narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan pelajar dan mahasiswa di Jawa Barat sekitar 204.300. Dan kenaikan proyeksi di tahun 2015 sekitar 211.900. Lalu kenaikan di tahun 2016 kenaikan proyeksi menjadi sekitar 218.900 orang.

Tabel I. Proyeksi Jumlah Penyalahguna narkoba dan angka prevalensi total menurut Skenario dan Kelompok Pelajar, 2014-2020 (dlm ribuan orang)

Jenis kelamin
Skenario
2014
2015
2016
2017
2018
2019
2020









Pelajar
Naik
1,128.0
1,178.3
1,225.7
1,269.5
1,309.4
1,345.2
1,377.4

Stabil
1,099.1
1,123.6
1,148.2
1,172.7
1,197.1
1,221.6
1,246.5

Turun
1,041.4
1,014.0
993.2
979.2
972.7
974.2
984.7

     Tabel II. Survey BNN pengguna napza kalangan pelajar

No
Sumber
Indikator
Angka
1.
Laporan BNN tahun 2014
Mayoritas pengguna berasal dari kalangan remaja dan berpendidikan tinggi
 27,23 persen dari jumlah penyalahguna napza (4,2 juta)
2.
Laporan BNN Tahun 2012
Pelajar dan mahasiswa menjadi tersangka kasus Napza
     6,251  orang dari 188.578

2.      Survey Nasional Perilaku Seks di Kalangan Pelajar Indonesia
Selain penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang, kenakalan remaja berkaitan dengan perilaku seks, pornografi dan pornoaksi. Tahun 2014, Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN mengeluarkan hasil survey, menurut Julianto 46 persen usia 15 -19 tahun sudah berhubungan seksual. Data Sensus Nasional bahkan menunjukkan 48 – 51 persen perempuan hamil adalah remaja.
Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak melakukan penelitian, bahwa dari 4.726 responden 97 persen pernah menonton pornografi, dan 93,7 persen mengaku sudah tidak perawan. Bahkan 21,26 persen mengaku pernah aborsi.
Berdasarkan hasil survei yang lakukan oleh Zoy Amirin seorang pakar Psikologi Sosial dari Universitas Indonesia pada tahun 2011 menunjukan 64 persen anak muda di Indonesia belajar seks melalui Film porno atau DVD bajakan. Akibatnya, 39 persen responden anak remaja usia 15-19 tahun sudah pernah berhubungan seksual, dan sisanya 61 persen usia 20-25 tahun. Gerakan Moral Jangan Bugil Di Depan Kamera (JBDK), mencatat adanya peningkatan secara signifikan peredaran video porno yang dibuat oleh anak-anak remaja di Indonesia. Jika pada tahun 2007 tercatat ada 500 jenis video porno asli produksi dalam negeri, maka pada pertengahan 2010 jumlah tersebut melonjak menjadi 800 jenis. Fakta yang paling memprihatikan di atas adalah kenyataan bahwa sekitar 90 persen dari video porno tersebut pemerannya berasal dari pelajar dan mahasiswa.
Berawal dari kenakalan remaja dalam melakukan seks bebas akan berakibat pada menjadi pekerja seks dan kehamilan yang tidak diinginkan yang berujung pada peristiwa aborsi. Bersumber dari Antara News tanggal 02 Desember 2009, sekitar 25 persen dari 239 orang Wanita Pekerja Seks (WPS) di Kota Sukabumi berasal dari kalangan pelajar yang berawal dari seks bebas dan ingin hidup mewah.

    Tabel III. Survey Perilaku Seks Kalangan Pelajar

No
Sumber
Indikator
 Hasil Suvey
1
BKKBN
Penetapan usia remaja yang menjadi koresponden
 usia 15 - 24 tahun
2
Survey BKKBN tahun 2014
15-19 Tahun sudah berhubungan seksual
 46 persen
3
Data Sensus Nasional
Perempuan hamil di Indonesia
 48-51 persen adalah perempuan remaja
4
KOMNAS Perlindungan Anak
Melakukan survey kepada 4.726  remaja
-           97 persen pernah menonton pornografi.
-           93,7 persen mengaku sudah tidak perawan.
-           21,26 persen mengaku pernah aborsi.
5
Zoy Amirin, Universitas Indonesia
Melakukan Survey kepada anak muda pada tahun 2011
-           64 persen koresponden belajar seks dari Film Porno.
-           39 Persen Responden usia 15-19 tahun sudah pernah berhubungan seksual.
-           61 persen responden usia 20 - 25 pernah berhubungan seksual
6
Gerakan Moral Jangan Bugil Depan Kamera (JBDK)
Video Porno produksi dalam negeri
-           Tahun 2007 tercatat ada 500 jenis video porno
-           Tahun 2010, melonjak menjadi 800 jenis
-           Sekitar 90 persen pemerannya adalah pelajar dan mahasiswa
7
Antara News - tanggal 02 Desember 2009
Wanita Pekerja Seks (WPS) di Kota Sukabumi
25 persen dari 289 WPS di kota Sukabumi berasal dari kalangan pelajar yang berawal dari seks bebas dan ingin hidup mewah
8
Dinas Kesehatan Kota Sukabumi
Survey Pengetahuan Umum Remaja Kota Sukabumi tentang HIV-AIDS
Hanya 9,23 persen remaja di Kota Sukabumi memiliki pengetahuan tentang HIV-AIDS

3.      Kasus HIV-AIDS di Indonesia

Merujuk pada laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk kasus HIV-AIDS Triwulan II tahun 2014, secara kumulatif angka kasus HIV-AIDS telah mencapai 198.573 orang. Penyumbang terbesar kasus berasal dari kelompok berusia produktif, diantaranya kelompok usia 15 – 19 tahun berjumlah 1.717 orang, kelompok usia 20 – 29 berjumlah 18,287 orang, dan kelompok usia 30 – 39 berjumlah 15.816 orang, serta tercatat 1.191 orang berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa.


Dari berbagai sumber